Posted by : wiwin is widyaningrum
Minggu, 09 April 2017
Penantianku Yang Tak Berujung
Judul Cerpen Penantianku Yang Tak Berujung
Cerpen Karangan: Ridha Michael
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 10 April 2017
Cerpen Karangan: Ridha Michael
Kategori: Cerpen Cinta Sedih
Lolos moderasi pada: 10 April 2017
“cinta itu sabar, seperti pelangi yang menunggu hujan reda”
Hari itu kulihat senja di bawah pohon tempat dimana aku meluangkan segala kepedihanku dengan pena dan buku kecilku. “mega yang cantik sampaikanlah salamku padanya yang berada jauh di mataku.” Ucapku sambil menutup kedua mata saat awan-awan merah itu mulai menjauh di atasku.
Satu tahun yang silam…
aku tersadar dalam sebuah lamunan panjang saat seorang lelaki menghampiriku dan menepuk bahuku, dia adalah Miko teman sekelasku sekaligus orang yang spesial dalam hidupku, iya.. dia adalah kekasihku. Aku sudah menjalani hubungan sekitar seminggu yang lalu dengannya. Aku tahu dia bukan cinta pertamaku tapi dialah yang mengajarkanku apa itu cinta. Rasa sayangku padanya tak dapat kutuliskan dengan tinta di buku, yang aku tahu aku ingin selalu berada di dekatnya dan tak ingin kehilangannya.
aku tersadar dalam sebuah lamunan panjang saat seorang lelaki menghampiriku dan menepuk bahuku, dia adalah Miko teman sekelasku sekaligus orang yang spesial dalam hidupku, iya.. dia adalah kekasihku. Aku sudah menjalani hubungan sekitar seminggu yang lalu dengannya. Aku tahu dia bukan cinta pertamaku tapi dialah yang mengajarkanku apa itu cinta. Rasa sayangku padanya tak dapat kutuliskan dengan tinta di buku, yang aku tahu aku ingin selalu berada di dekatnya dan tak ingin kehilangannya.
Nita dan Nila. Dia adalah sahabatku yang paling aku sayang. Mereka berdua sangat berharga bagi hidupku. Mereka selalu siap mendengarkan curahan hatiku bahkan saat aku ada masalah dengan Miko aku selalu curhat dengan mereka. Mereka berdua adalah pendengar yang setia dan mampu membuatku tenang.
“hey apa yang sedang kau lakukan sendiri di sini?.” Tanya Miko yang tampaknya khawatir melihatku sedang dilanda kegalauan.
“tidak.. tidak apa apa kok, aku hanya berpikir apakah cinta yang kita bangun bisa bertahan sampai nanti.” Jawabku dengan senyuman tipis
“tidak.. tidak apa apa kok, aku hanya berpikir apakah cinta yang kita bangun bisa bertahan sampai nanti.” Jawabku dengan senyuman tipis
Sore itu, Miko datang dan mengajakku ke tempat yang belum aku ketahui, dia hanya bilang kalau itu tempat spesial dan hanya aku saja yang boleh ke sana dan katanya di sanalah aku akan mendapatkan kedamaian.
“hey.. Miko kau ingin membawaku ke mana?.” Tanyaku dengan mata yang masih tertutup kain dan tangan yang terus ditarik oleh Miko.
“sudahlah Mika nanti kau akan lihat sendiri..” langkahnya terhenti dan genggaman tangannya terlepas lalu dia mulai membuka kain penutup mataku dengan perlahan.
Penglihatanku yang masih samar itu tiba tiba dikejutkan dengan sebuah tempat yang sepertinya sangat damai, tenang dan indah lalu senyuman di pipiku pun tercipta melihat tempat yang baru saja kulihat itu. Sore itu kebahagian terus mewarnai wajahku. Ku duduk di bawah pohon yang lumayan besar dengan Miko, tiba tiba suasana menjadi hening tanpa suara tawa kami berdua entah mengapa Miko terdiam dan hanya memandang mega mega cantik yang di atas langit itu.
“sudahlah Mika nanti kau akan lihat sendiri..” langkahnya terhenti dan genggaman tangannya terlepas lalu dia mulai membuka kain penutup mataku dengan perlahan.
Penglihatanku yang masih samar itu tiba tiba dikejutkan dengan sebuah tempat yang sepertinya sangat damai, tenang dan indah lalu senyuman di pipiku pun tercipta melihat tempat yang baru saja kulihat itu. Sore itu kebahagian terus mewarnai wajahku. Ku duduk di bawah pohon yang lumayan besar dengan Miko, tiba tiba suasana menjadi hening tanpa suara tawa kami berdua entah mengapa Miko terdiam dan hanya memandang mega mega cantik yang di atas langit itu.
“miko kau kenapa?.” Aku yang mulai heran melihat Miko terdiam membisu itu.
“mika.. jika aku tak ada nanti maka lihatlah ke atas sana, jika kau rindu padaku titipkan salam pada mega mega cantik itu.” Jawab Miko dengan menutup kedua mata indahnya itu.
“apa maksudmu Miko? Apakah kau mau meninggalkanku?.” Aku semakin heran saat mendengar ucapan Miko.
“entahlah Mika.. tapi ya sudahlah lupakan itu semua, kau sekarang di dekatku dan teruslah berada di dekatku.” Setelah ucapannya itu dia pun memelukku erat.
“mika.. jika aku tak ada nanti maka lihatlah ke atas sana, jika kau rindu padaku titipkan salam pada mega mega cantik itu.” Jawab Miko dengan menutup kedua mata indahnya itu.
“apa maksudmu Miko? Apakah kau mau meninggalkanku?.” Aku semakin heran saat mendengar ucapan Miko.
“entahlah Mika.. tapi ya sudahlah lupakan itu semua, kau sekarang di dekatku dan teruslah berada di dekatku.” Setelah ucapannya itu dia pun memelukku erat.
Aku tak tahu apa yang terjadi dengannya sore itu, apakah dia bermaksud meninggalkanku dan pertanyaanku itu masih belum terjawab, hingga kini 2 bulan. hari ini dia tak pernah memberi kabar dariku pada hal tadi di sekolah aku masih melihatnya tersenyum padaku tapi kenapa dia tiba tiba menghilang di mataku. Aku hanya bisa menangis dalam pelukan kedua sahabatku itu.
“sudahlah Mika, jangan menangis lagi jika memang dia bukan untukmu relakan saja dia.” Ucapan Nila tidak bisa menahan air mata yang masih saja mengalir itu. Aku hanya bisa terdiam dan fokus kepada hatiku yang benar benar hancur itu.
“sudahlah Mika, jangan menangis lagi jika memang dia bukan untukmu relakan saja dia.” Ucapan Nila tidak bisa menahan air mata yang masih saja mengalir itu. Aku hanya bisa terdiam dan fokus kepada hatiku yang benar benar hancur itu.
Sore hari itu aku berniat pergi ke tempat dimana Miko mengajakku dulu dan aku berharap penuh dia ada di sana karena aku sangat merindukannya. Kerinduanku tak dapat kugambarkan dengan pena atau apapun. Saat aku tiba di depan pohon dimana aku dan dia dulu duduk bersama, air mata itu kembali membasahi pipiku saat kulihat tak ada siapa pun di sana. Aku menjatuhkan tubuhku dengan lemas kutertunduk sedih.
“kenapa kau tega meningalkanku Miko, di manakah kau yang dulu?.” Pikirku dengan air mata yang mengalir deras.
“kenapa kau tega meningalkanku Miko, di manakah kau yang dulu?.” Pikirku dengan air mata yang mengalir deras.
Harapanku kini pupus dan menjadi abu, ku duduk sendiri di bawah pohon itu dengan air mata yang mengalir di sela sela bibirku, tiba tiba kuteringat dengan perkataan Miko bahwa aku harus berada di dekatnya terus.
“akh.. semua itu palsu, dia bilang aku harus berada di dekatnya terus tapi kenapa dia pergi meninggalkanku?.” Ucapku dalam batin
“akh.. semua itu palsu, dia bilang aku harus berada di dekatnya terus tapi kenapa dia pergi meninggalkanku?.” Ucapku dalam batin
Sesaat kemudian aku menoleh di mana tempat Miko duduk di dekatku, ku terdiam sejenak dan menghapus air mataku. Aku melihat sebuah buku kecil dan pena di tempat itu dan saat kubuka buku itu tertulis sebuah pesan dari Miko yang membuatku semakin terpuruk dalam kesedihan.
“sayang… aku minta maaf jika tak mengatakan ini dari awal padamu, aku hanya takut jika nanti kau lebih dulu meninggalkanku. Aku tidak bisa menahan penyakitku ini dan mungkin sore itu adalah pertemuan terakhir kita. Maafkan aku jika meninggalkanmu secepat ini. Aku sangat menyayangimu jadi berjanjilah kau selalu berada di dekatku. Jika kau rindu padaku percayalah bahwa aku masih bersamamu dan ingatlah mega mega cantik itu setiap permintaan yang kau titipkan padanya kan sampai padaku di sini. Mika I miss u.”
Kata kata terakhir Miko di sebuah buku kecil itu membuat hatiku benar benar hancur jadi yang kulihat di sekolah itu hanyalah bayangan Miko. Aku benar benar tak menyangka dia secepat ini meninggalkanku, Jadi penantianku selama ini tak akan pernah berujung. Dia pergi dan benar benar telah hilang di mataku.
Kata kata terakhir Miko di sebuah buku kecil itu membuat hatiku benar benar hancur jadi yang kulihat di sekolah itu hanyalah bayangan Miko. Aku benar benar tak menyangka dia secepat ini meninggalkanku, Jadi penantianku selama ini tak akan pernah berujung. Dia pergi dan benar benar telah hilang di mataku.
Jam 17:33
Aku membuka mataku perlahan setelah kulihat langit kini telah bersih dan berwarna emas itu. Kini sudah setahun lamanya dia pergi meninggalkanku. Buku dan pena yang masih dalam genggamanku itu terus membuatku semakin rindu padanya seperti dia sedang berada di dekatku dan menggenggam erat tanganku itu.
Aku membuka mataku perlahan setelah kulihat langit kini telah bersih dan berwarna emas itu. Kini sudah setahun lamanya dia pergi meninggalkanku. Buku dan pena yang masih dalam genggamanku itu terus membuatku semakin rindu padanya seperti dia sedang berada di dekatku dan menggenggam erat tanganku itu.
“Miko aku sudah melakukan apa yang kau inginkan, apakah pesanku tadi sudah sampai? Aku sangat rindu padamu, mega mega itu memang sangat cantik Miko.. terima kasih yah untuk semuanya dan percayalah aku masih di dekatmu sekarang.” Ucapku menatap kosong langit emas itu dengan senyuman tipis di wajahku.
“Miko… cintaku akan hadir dan akan selalu hadir untukmu.. untukmu di sana.”
“walau kini kau telah hilang di mataku tapi namamu tak akan pernah hilang di hatiku.”
“Miko.. cintaku sabar.. layaknya pelangi yang sedang menunggu hujan reda.”
“Miko… cintaku akan hadir dan akan selalu hadir untukmu.. untukmu di sana.”
“walau kini kau telah hilang di mataku tapi namamu tak akan pernah hilang di hatiku.”
“Miko.. cintaku sabar.. layaknya pelangi yang sedang menunggu hujan reda.”
THE END
