SELAMAT DATANG DIBLOG PRINCESS WIWIN IS :)
Posted by : wiwin is widyaningrum Minggu, 07 Mei 2017

Cerpen Karangan: 

Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 5 May 2017
Nazea, gadis bermata indah kecoklatan itu menatapku dari jauh. Ia melambaikan tangannya seakan membujukku untuk menghampirinya. Segaris senyum terlukis di bibirnya. Raut wajahnya begitu ceria bagaikan rembulan yang menyinari malamku. Seseorang yang bisa kutatap malam ini hanyalah dirinya meski orang-orang berlalu lalang di antara kami. Sungguh aku terpana pada pesonanya yang mampu menggetarkan hatiku.
“Handy!” sahutnya dari kejauhan.
Suaranya memecah lamunanku. Aku menghampirinya meski harus menyingkirkan orang-orang yang berdesakan di hadapanku. Pekan raya kali ini benar-benar ramai. Aku cukup kesulitan untuk menghampirinya. Namun Nazea yang sudah menungguku di dekat penjual aksesoris itu malah pergi entah ke mana. Ah, apa yang dia lakukan? Aku jadi kesulitan menemukannya.
“Nazea! Kau di mana?” sahutku panik.
Tiba-tiba sebuah genggaman tangan menggenggam tangan kiriku. Aku pun mengalihkan pandanganku. Ternyata Nazea yang menggenggam tanganku.
“Handy, apa yang kau lakukan di sini? Ayo! Sebaiknya kau ikut aku,” ajaknya.
“Ke mana?”
“Tak usah banyak tanya, ayo!”
Ia membawaku pergi ke suatu tempat sambil memegang tanganku erat. Rasa penasaran melintas di pikiranku. Ke mana dia akan membawaku pergi di tempat yang ramai ini? Aku harap dia tidak membawaku ke tempat yang aneh atau buruk.
Tak lama kemudian kami tiba di sebuah tempat makan tepatnya sebuah kedai sate yang berada tak jauh dari pekan raya. Kulihat beberapa orang yang kukenal adalah teman Nazea. Tiga orang laki-laki dan dua orang perempuan, tetapi di antara mereka ada salah seorang yang baru kutemui kali ini.
“Handy!” sahutnya sembari menghampiri dan merangkulku. “Bagaimana kabarmu, Sob?”
“Ah… Aku baik-baik saja. Bagaimana denganmu?” tanyaku canggung.
“Sama sepertimu, Sob. Hei! Apa kau masih mengingatku? Aku Rudi, teman sekelasmu waktu masih SMP,” ucapnya meyakinkan.
“Wah! Jadi kalian berdua saling kenal? Ini sangat mengagumkan,” ucap Nazea menyela.
“Benar, Nazea. Akhirnya berkat dirimu aku bisa bertemu lagi dengan teman lamaku,” ucap Rudi girang.
“Handy, maukah kau ikut bergabung bersama kita? Sate di sini enak dan murah,” ujar Nazea.
“Baiklah, dengan senang hati,” jawabku santai.
Aku pun ikut bergabung menikmati sate maranggi bersama Nazea dan teman-temannya. Tak ada yang lebih menyenangkan selain menikmati makanan lezat bersama orang yang kusayangi. Canda tawanya begitu renyah berbaur bersama rasa bahagia yang meluap di hatiku. Begitu juga dengan gaya bicara Rudi yang unik tetap tak berubah sejak aku pertama kali mengenalnya. Dialek khas Bataknya tak pernah hilang dari ingatanku.
“Oh ya, Rudi, kau tahu? Handy itu orangnya sangat baik dan peduli. Aku senang bisa berteman baik dengannya dan menganggapnya saudara,” ucap Nazea dengan mata berbinar.
“Bukan hanya itu, dia pernah menolongku dari orang-orang jahil sewaktu SMP dulu meski akhirnya dia dipanggil guru gara-gara menghajar anak nakal yang berusaha untuk berkelahi denganku. Beruntung Handy jago bela diri,” sanggah Rudi. “Sob, aku sangat berutang budi padamu,” lanjutnya menepuk bahuku.
“Ahh, sudahlah, itu kejadian masa lalu. Sebaiknya kalian berdua tak perlu melebih-lebihkanku seperti itu,” ucapku canggung.
“Jangan merendah, Han. Kau memang seperti itu adanya. Aku senang bisa mengenalmu dari dulu,” ujar Rudi. “Handy, dapatkah aku mempercayaimu untuk menjaga Nazea saat aku tak ada? Aku takut dia berpindah ke lain hati dan genit pada setiap lelaki.”
“Tenang saja Rudi, aku akan menjaganya. Nazea perempuan baik-baik, kau tak akan pernah menyesal jika mencintainya,” jawabku seraya memandang Nazea yang tersipu malu.
“Ah, kau bisa saja, Handy. Hampir saja aku lupa, Rudi dan aku baru saja resmi jadian. Aku harap pacar dan sahabatku bisa berteman akrab seperti ini,” ucap Nazea gembira.
“Tentu saja Nazea,” ujar Rudi. “Handy, mulai sekarang aku meyakini kata-katamu itu, aku tak akan pernah menyesal karena mencintainya dan aku tak akan membuatnya kecewa,” lanjut Rudi sambil memegang tangan Nazea dan menatap matanya.
Mendengar perkataan keduanya tiba-tiba selera makanku hilang. Kesadaranku akan kenyataan pahit telah kembali. Memiliki Nazea hanyalah sesuatu yang mustahil. Aku hanya bisa tersenyum menanggapi pernyataan keduanya. Tak mungkin kutunjukkan rasa kecewa pada mereka yang berbahagia. Aku hanya bisa turut berbahagia atas jalinan kasih antara keduanya. Apalah dayaku yang berada dekat dengan Nazea namun hanya bisa melihat kebahagiaannya dari jauh. Kata cinta bukanlah jalan terbaik jika akhirnya hanya merusak persahabatan di antara kami berdua. Nazea, ia begitu dekat namun tak pernah bisa kumiliki.
Aku segera bergegas dari kedai itu. Rasa canggung melekat di benakku. Tak pantas rasanya bila aku berada di antara tiga pasang kekasih sedangkan aku seorang diri. Lebih baik pergi daripada mengganggu romantika di antara mereka.
“Eh, kau mau ke mana, Han? Sepertinya kau terburu-buru,” tanya Nazea.
“Ada urusan penting. Sampai jumpa besok,” ucapku sembari bergegas dari tempat duduk.
“Ah, baiklah. Sampai jumpa,” ucap Nazea.
“Rudi, jaga Nazea baik-baik. Jika kau menyakitinya aku tak akan memaafkanmu,” ucapku melempar senyum pada Rudi.
“Tenang saja, Sob. Aku tak akan mengingkari janjiku pada Nazea,” ucap Rudi tersenyum.
Lima bulan berlalu. Sudah cukup lama rasanya hubungan Nazea dan Rudi berlangsung. Aku tak bisa menampik jika rasa sesak begitu mencekik setiap kali melihat keduanya berjalan bersama di sekitar kampus. Namun rasa sesak itu terobati untuk sementara saat Nazea datang kembali padaku membawa tawa dan cerita akan perjalanan cintanya dengan Rudi. Ia tak ubahnya seperti udara yang memompa detak jantungku. Tanpanya aku hanya bisa hidup dalam kekosongan.
Suatu malam ponselku bergetar. Kulihat satu panggilan dari Nazea. Ada apa dia meneleponku di malam yang sunyi seperti ini? Aku pun mengangkat panggilan suara itu.
“Halo.”
“H-Han… Bisa kau keluar sebentar? Ak… Aku menunggumu di dekat gerbang rumahmu… Cepatlah…” ucap Nazea dari sebrang telpon dengan suara terisak-isak.
Rasa cemas menghantui pikiranku. “Baiklah, aku segera ke sana.”
Tanpa menunggu lama aku segera menghampiri Nazea. Aku harap kedua orang tuaku tak mendengar suara derap langkahku saat itu. Setibanya di luar aku segera membuka gerbang dan kudapati Nazea yang berurai air mata. Ia mengenakan pakaian tidur berbalut mantel tebal di tubuhnya. Ia kemudian memelukku dengan erat dengan suara terisak. Rasa heran dan penasaran berkecamuk dalam pikiranku.
“Nazea? Ada apa denganmu? Mengapa kau mengunjungiku malam-malam seperti ini?”
Nazea tak berhenti menangis. Aku menyeka air matanya dan merangkulnya menuju kursi di teras rumah. Di sisi lain aku merasa takut tetangga sekitar mengetahui keberadaan Nazea di sekitar rumahku dan berpikir negatif.
“Nazea, ceritakan padaku apa yang sebenarnya telah terjadi? Apakah Rudi menyakitimu?” tanyaku cemas.
“Tidak… Ini bukan tentang Rudi…” ucapnya terisak.
“Lalu apa yang membuatmu menangis?” tanyaku penasaran.
Nazea terdiam namun air matanya tak berhenti mengalir.
“Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan segelas air hangat untukmu,” ucapku bergegas pergi.
“Tidak usah, aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu,” ujarnya menahanku.
Aku kembali duduk, “apa yang ingin kau katakan?”
“Ini memang sulit… T-tapi harus aku katakan padamu…” ucapnya dengan suara parau.
“Baiklah, apa yang ingin kau katakan?”
Nazea mengela napas dan berkata, “Handy, sebelumnya aku sangat berterima kasih padamu. Sejujurnya sejak enam tahun lalu aku tinggal di Indonesia, aku merasa ragu untuk bertahan di sini. Tapi berkat kehadiranmu yang menemaniku setiap waktu, aku merasa tidak kesepian dan bisa bertahan di sini. Aku sangat merasa nyaman bila kau selalu bersamaku. Kau berarti bagiku.”
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Perkataannya membuat pikiranku seakan terbang dibuai angan. Namun kegembiraanku tertahan oleh raut wajah Nazea yang begitu sedih. Tak mungkin kegembiraan aku ungkapkan padanya sedangkan Nazea masih terbalut dengan kesedihan dan air mata.
“Di sisi lain aku terganjal dengan keberadaan Rudi yang begitu berarti bagiku. Tak mungkin aku mengatakan hal ini padanya. Aku tak ingin membuatnya sedih,” ucap Nazea terisak
Rasa penasaran menggerayangi benakku. Pikiranku seakan tak berhenti menerka apa yang hendak dikatakan Nazea. Akankah ia mengatakan sesuatu yang kuharapkan seperti kata “cinta”? Ataukah ada hal lain yang membuatnya terpukul sehingga memaksa dirinya datang ke rumahku? Entahlah.
Cerpen Karangan: Ira Solihah
Cerpen Doa Untuk Rembulanku (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © keseharian dan kehidupanku - Blogger Templates - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -